Penyelam Indonesia melanjutkan pencarian laut untuk menemukan kotak hitam kedua Sriwijaya Air

Penyelam Indonesia melanjutkan pencarian laut untuk menemukan kotak hitam kedua Sriwijaya Air


JAKARTA: Pencarian udara untuk korban dan puing-puing pesawat Indonesia yang jatuh diperluas pada Kamis (14 Jan) ketika penyelam terus menyisir puing-puing yang berserakan di dasar laut mencari perekam suara kokpit dari jet Sriwijaya Air yang hilang.

Badan Pencarian dan Penyelamatan Nasional telah menghentikan sementara pencarian kotak hitam kedua pada hari Rabu karena cuaca buruk dan gelombang setinggi 5m. Para penyelam kembali ke air beberapa jam kemudian.

BACA: Satu dari Dua ‘Kotak Hitam’ Jet Sriwijaya Air Ditemukan, Panglima TNI Yakin Kedua Segera Ditemukan

Boeing 737-500 menghilang pada Sabtu beberapa menit setelah lepas landas dari Jakarta dengan 62 orang di dalamnya. Kotak hitam lain yang berisi data penerbangan ditemukan pada hari Selasa, dan ratusan personel pencarian juga telah menemukan bagian pesawat dan sisa-sisa manusia dari Laut Jawa.

Pencarian udara sedang diperluas ke daerah pesisir dari rangkaian Kepulauan Seribu “karena puing-puing pesawat dan korban dapat terbawa arus laut”, kata Rasman, koordinator misi pencarian dan penyelamatan badan tersebut yang hanya menggunakan satu nama.

Puing yang ditemukan di perairan sekitar lokasi jatuhnya pesawat penumpang Sriwijaya Air dibawa ke pantai oleh tim pemulihan di pusat komando SAR di Jakarta, Indonesia, 13 Jan 2021. (Foto: AP / Achmad Ibrahim)

Para pejabat Angkatan Laut mengatakan kedua kotak hitam itu terkubur di lumpur dasar laut di bawah berton-ton puing-puing antara pulau Lancang dan Laki di rantai Pulau Seribu di utara Jakarta. Setidaknya 268 penyelam dikerahkan pada hari Kamis, hampir dua kali lipat dari angka sebelumnya.

Tim penyelamat bertambah menjadi 4.100 personel, didukung oleh 13 helikopter, 55 kapal dan 18 perahu rakit.

Sejauh ini, penggeledah sudah mengirimkan 141 kantong jenazah berisi jenazah kepada ahli identifikasi polisi. Keluarga telah memberikan sampel DNA ke unit identifikasi korban bencana, yang pada Rabu mengatakan telah mengidentifikasi enam korban, termasuk seorang pramugari dan pilot yang sedang tidak bertugas.

Data maskapai menunjukkan bahwa kedua pilot yang memimpin pesawat sangat berpengalaman dan memiliki catatan keselamatan yang relatif baik.

BACA: Sriwijaya Air Crash – Co-pilot Tercerdas di Sekolah Terbang, Pilot Orang yang ‘Hangat dan Penyayang’

Kapten Afwan, yang memiliki satu nama, memulai karirnya sebagai pilot angkatan udara Hercules dan memiliki pengalaman terbang selama beberapa dekade. Dia dikenal oleh kerabat dan teman-temannya sebagai seorang Muslim yang taat dan penceramah. Co-pilot Afwan, Diego Mamahit, juga memiliki kualifikasi yang sama.

Kecelakaan Pesawat Indonesia

Tim penyelamat dan polisi Indonesia membawa puing-puing yang ditemukan dari jet penumpang Sriwijaya Air yang jatuh di pusat komando di Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Indonesia, 13 Jan 2021. (Foto: AP / Achmad Ibrahim)

Nurcahyo Utomo, penyidik ​​di Komite Nasional Keselamatan Transportasi Indonesia, yang dikenal dengan singkatan KNKT, mengatakan kru tidak menyatakan keadaan darurat atau melaporkan masalah teknis sebelum pesawat menukik ke laut.

Dia mengatakan para penyelidik sekarang sedang bekerja untuk membaca detail penting pada perekam data penerbangan yang telah diselamatkan sebelumnya dan melacak informasi elektronik seperti kecepatan udara, ketinggian, dan percepatan vertikal.

BACA: Indonesia Mengatakan Jet Sriwijaya Air yang Jatuh Lulus Pemeriksaan Kelaikan Udara

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan pesawat terus mengirimkan data saat jatuh dari ketinggian hampir 11.000 kaki (3.352m) ke 250 kaki (7.6m), mengutip temuan dari penyelidikan data radar.

Tjahjono juga mengatakan bilah kipas yang rusak yang masih terpasang pada cakram turbinnya merupakan salah satu dari puing-puing yang ditemukan, dan bahwa “bilah kipas yang rusak menunjukkan bahwa mesin masih berfungsi selama benturan”.

Penyelidik dan ahli dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS, produsen mesin jet General Electric dan Boeing akan bergabung dalam penyelidikan dalam beberapa hari ke depan.

Industri penerbangan Indonesia tumbuh dengan cepat setelah perekonomian negara dibuka menyusul jatuhnya diktator Suharto pada akhir 1990-an. Masalah keamanan membuat Amerika Serikat dan Uni Eropa melarang maskapai penerbangan Indonesia selama bertahun-tahun, tetapi larangan tersebut telah dicabut karena kepatuhan yang lebih baik terhadap standar penerbangan internasional.

Dipublikasikan Oleh : Pengeluaran HK

Asia