Orang Indonesia harus ‘cinta barang lokal, benci produk asing’: Presiden Jokowi


JAKARTA: Presiden Joko Widodo mengatakan pada Kamis (4/3) bahwa konsumen Indonesia harus didorong untuk “mencintai” merek dalam negeri dan “membenci” produk asing, karena ia mendesak para pejabat untuk tetap berada di jalur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi 5 persen tahun ini.

Berbicara dalam rapat nasional Kemendag, Jokowi, begitu sapaan akrab Presiden, mengimbau industri untuk menggunakan komponen lokal daripada mengimpornya. Masyarakat harus bangga dengan produk lokal, ujarnya.

Ia menambahkan, branding itu penting dan merek atau produk lokal dari usaha kecil dan menengah (UKM) harus dipajang di mal dan diberi spot terbaik. Merek asing bisa dipajang di samping, kata presiden.

“Karena jumlah penduduk kita, penduduk Indonesia lebih dari 270 juta orang. Kita harus menjadi konsumen paling setia atas produk kita sendiri,” ujarnya.

“Seruan untuk mencintai produk kita sendiri … harus terus digaungkan … Juga, gaung kebencian untuk produk luar negeri.”

Ia menambahkan: “Cintai barang kita, benci produk dari luar negeri. Sehingga masyarakat kita benar-benar menjadi konsumen setia produk Indonesia.”

BACA: Jokowi ungkap anggaran US $ 185 miliar untuk tahun 2021; PDB Indonesia ditargetkan tumbuh antara 4,5% dan 5,5%

Pegawai kementerian harus kreatif dan inovatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, katanya juga.

“Target pertumbuhan 5 persen yang ditetapkan dalam APBN harus benar-benar tercapai. Sekali lagi, 2021 adalah tahun pemulihan yang harus dilandasi semangat optimisme.

“Untuk itu, saya secara khusus meminta kepada jajaran Kementerian Perdagangan agar tidak hanya bekerja secara normatif. Harus ada terobosan kreatif. Harus ada terobosan-terobosan inovatif, ”kata Pak Widodo.

Ia juga mengatakan, sektor perdagangan digital harus terus dikembangkan.

“Indonesia tidak boleh menjadi korban perdagangan digital yang tidak adil. Negara lain sudah banyak mengalami hal ini dan jangan sampai kita menjadi korban perdagangan digital yang tidak adil, ”kata Presiden.

Indonesia mengalami kontraksi ekonomi sebesar 2,07 persen tahun lalu, kontraksi tahunan pertama sejak krisis keuangan Asia pada tahun 1998.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani mencatat kontraksi tersebut relatif moderat dibandingkan negara lain.

Dipublikasikan Oleh : Pengeluaran HK