Kecelakaan udara Sriwijaya: Investigasi saat ini difokuskan pada sistem autothrottle, kata pihak berwenang Indonesia


JAKARTA: Komite Nasional Keselamatan Transportasi Indonesia mengatakan pada Rabu (10/2) bahwa penyelidikan terhadap Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh bulan lalu akan fokus pada sistem autothrottle pesawat.

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa sistem, yang mengontrol tenaga mesin secara otomatis, mungkin tidak berfungsi.

Dalam konferensi pers untuk mengumumkan laporan pendahuluannya, kepala penerbangan komite tersebut Nurcahyo Utomo mengatakan kedua autothrottle pesawat tersebut menunjukkan anomali.

“Untuk yang kiri mundur terlalu jauh, sedangkan yang kanan tidak bergerak, jadi macet. Kami tidak tahu mana yang patah, yang kiri atau yang kanan,” tambahnya.

Mr Utomo menambahkan bahwa penyelidikan akan fokus pada sistem autothrottle pesawat dan komponen terkait yang dipasang di pesawat, catatan perawatan pesawat serta kemungkinan faktor manusia yang terlibat.

BACA: Kecelakaan Udara Sriwijaya: Co-pilot Tercerdas di Sekolah Terbang, Pilot Orang yang ‘Hangat dan Penyayang’

Pesawat Sriwijaya Air lepas landas dari Jakarta pada 9 Januari dan sedang dalam perjalanan ke Pontianak, Kalimantan Barat ketika hilang dari layar radar hanya empat menit setelah lepas landas.

Pengatur lalu lintas udara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta bertanya kepada pilot beberapa detik sebelum pilot menghilang mengapa ia menuju barat laut alih-alih jalur penerbangan yang diharapkan tetapi tidak pernah mendapat tanggapan.

Pihak berwenang menyimpulkan pesawat itu jatuh ke Laut Jawa tanpa meninggalkan korban. Semua 62 orang di dalamnya tewas.

FOTO FILE: Personel TNI AL membawa kantong jenazah pada hari terakhir operasi pencarian dan penyelamatan penerbangan Sriwijaya Air SJ 182, yang jatuh ke laut Jawa, di pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Indonesia, 21 Januari 2021. REUTERS / Ajeng Dinar Ulfiana

BACA: Indonesia Sebutkan Pesawat Sriwijaya Air yang Jatuh Lulus Pemeriksaan Kelaikan Udara

Perekam Data Penerbangan dari penerbangan naas telah diambil, tetapi pihak berwenang masih mencari Perekam Suara Cockpit yang hilang yang dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Pesawat Boeing 737-500 itu hampir berusia 27 tahun.

Dipublikasikan Oleh : Pengeluaran HK